Minggu, 19 Februari 2012

Jual Samsung Galaxy Note BNIB (Nego)

Spesifikasi :
General 2G Network GSM 850 / 900 / 1800 / 1900
3G Network HSDPA 850 / 900 / 1900 / 2100
4G Network LTE 700 (region specific)
Announced 2011, September
Status Available. Released 2011, October
Body Dimensions 146.9 x 83 x 9.7 mm
Weight 178 g
- Touch-sensitive controls
Display Type Super AMOLED capacitive touchscreen, 16M colors
Size 800 x 1280 pixels, 5.3 inches (~285 ppi pixel density)
Multitouch Yes
Protection Corning Gorilla Glass
- TouchWiz UI v4.0
Sound Alert types Vibration; MP3, WAV ringtones
Loudspeaker Yes
3.5mm jack Yes
Memory Card slot microSD, up to 32GB, 2 GB included, buy memory
Internal 16GB/32GB storage, 1 GB RAM
Data GPRS Class 12 (4+1/3+2/2+3/1+4 slots), 32 - 48 kbps
EDGE Class 12
Speed HSDPA, 21 Mbps; HSUPA, 5.76 Mbps; LTE
WLAN Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, DLNA, Wi-Fi Direct, Wi-Fi hotspot
Bluetooth Yes, v3.0 with A2DP, EDR
NFC Optional
USB Yes, v2.0 microUSB (MHL), USB On-the-go
Camera Primary 8 MP, 3264x2448 pixels, autofocus, LED flash, check quality
Features Geo-tagging, touch focus, face and smile detection, image stabilization
Video Yes, 1080p@24~30fps, check quality
Secondary Yes, 2 MP
Features OS Android OS, v2.3.5 (Gingerbread)
Chipset Exynos
CPU Dual-core 1.4 GHz ARM Cortex-A9
GPU Mali-400MP
Sensors Accelerometer, gyro, proximity, compass, barometer
Messaging SMS(threaded view), MMS, Email, Push Mail, IM, RSS
Browser HTML, Adobe Flash
Radio Stereo FM radio with RDS
GPS Yes, with A-GPS support and GLONASS
Java Yes, via Java MIDP emulator
Colors Black, White
- S Pen stylus
- Active noise cancellation with dedicated mic
- NFC support (optional)
- TV-out (via MHL A/V link)
- SNS integration
- MP4/DivX/XviD/WMV/H.264/H.263 player
- MP3/WAV/eAAC+/AC3/FLAC player
- Organizer
- Image/video editor
- Document editor (Word, Excel, PowerPoint, PDF)
- Google Search, Maps, Gmail,
YouTube, Calendar, Google Talk, Picasa integration
- Voice memo/dial/commands
- Predictive text input (Swype)
Battery Standard battery, Li-Ion 2500 mAh
Stand-by Up to 960 h (2G) / Up to 820 h (3G)
Talk time Up to 26 h 10 min (2G) / Up to 13 h 30 min (3G)
Misc SAR US 0.16 W/kg (head) 0.96 W/kg (body)
SAR EU 0.34 W/kg (head)



hub : 08111006457 untuk lebih lengkapnya.
Harga Rp. 6.400.000,- (masih bisa nego)

Minggu, 05 Februari 2012

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”.


"Hawa udara di Changchun, Tiongkok, sangatlah dingin. Li Yuanyuan memanggul sang ibu yang lumpuh kedua kakinya sambil menggendong putrinya yang berusia dua tahun buru-buru ke rumah sakit karena sang ibu terkena serangan jantung lagi.

Orang-orang yang berlalu lalang di jalan memandang mereka bertiga dengan mata terbelalak, semua takjub melihat seorang wanita yang kelihatannya kurus lemah justru memiliki tenaga untuk memanggul satu orang sambil menggendong satu lagi…"


Di pagi buta, 13 Pebruari 2008, Li Yuanyuan telah memakaikan baju bagi anak dan sang ibu yang baru sembuh dari sakitnya. Jam 10 pagi, Yuanyuan berjongkok di depan sang ibu, meletakkan kedua kaki ibu di pinggangnya lalu memanggul sang ibu, kemudian menggendong putrinya yang berdiri di atas tempat tidur.

Kedua tangan Yuanyuan dipakai untuk menyangga sang ibu, sedangkan sang ibu membantu merangkul cucunya mengitari leher Yuanyuan. Dengan cara inilah tiga orang tersebut saling berangkulan dengan susah payah keluar dari rumah sakit. Sang ibu telah lumpuh selama 21 tahun, selama 21 tahun itu pulalah Yuanyuan terbiasa memanggul sang ibu keluar masuk rumah sakit.

Ketika Yuanyuan berusia 7 tahun terjadilah sebuah kecelakaan lalu lintas yang benar-benar telah merubah kehidupannya. Karena kecelakaan ini ibunda mengalami kelumpuhan pada kedua kaki yang diperparah dengan menghilangnya sang ayah.

Sejak saat itu, Yuanyuan menjadi tulang punggung rumah tangga. Karena tidak ada penghasilan Yuanyuan menghidupi keluarga dengan menjadi pemulung, uang hasil kerja kerasnya habis terpakai untuk mengurus sang ibu.

Rasa bakti Yuanyuan kepada orang tua sangat menyentuh hati para tetangga, banyak tetangga yang dengan sukarela memberi bantuan kepada sang ibu dan putrinya ini. Karena sepanjang tahun hanya mampu berebahan, otot kaki sang ibu sering kejang, sakitnya tak tertahankan.

Ada seorang tetangga yang berprofesi sebagai seorang dokter tradisional tua, setiap hari membantunya memberikan terapi akupunktur terhadap ibu Yuan-yuan, bahkan mengajarnya menggunakan teknik akupunktur sederhana.

Sejak berusia 11 tahun sampai sekarang, Yuanyuan sudah dapat menggunakan teknik akupunktur untuk meringankan rasa sakit ibunya.

Tiga tahun yang lalu, Yuan-yuan menikah, setahun kemudian, Yuanyuan melahirkan seorang putri. Namun di mana pun dan kapan pun, Yuanyuan tidak pernah meninggalkan sang ibu, dia dan suaminya bersama-sama memikul tanggung jawab mengurus sang ibu.

Meskipun rumah tangganya tidak terbilang kaya, mereka sangatlah puas. Sang ibu berkata, terkenang masa 21 tahun ini meskipun penuh penderitaan, namun dia sangat puas, dia merasa diri-nya sama dengan orang tua lain yang juga telah menikmati kehangatan keluarga.

Bagi Yuanyuan, selama 21 tahun ini, dia merasa dirinya sangat bahagia, karena dia adalah seorang anak yang masih memiliki seorang ibu.

“Saya rela menjadi tongkat ibu sepanjang hidupku.……”.

source : anonymous

Minggu, 15 Januari 2012

Kisah Seru bersama YISC Al Azhar - Aksi Tim Buser

Bulan ramadhan, merupakan bulan yang penuh berkah sekaligus bulan yang penuh dengan dinamika hikmah yang selalu akan saya temui tiap tahunnya. Tahun ini ramadhan yang ke-3 bagi saya di kerasnya Ibu Kota Jakarta, syukur alhamdulillah banyak pengalaman baik dan tidak luput juga pengalaman buruk yang saya alami.
Singkat kata nih, saya akan mulai mendongeng tentang pengalaman saya menangkap pencuri yang beraksi di lingkungan Masjid Al Azhar, semoga aja yang baca dan nulis sama-sama tidak bosan... :D
Saat itu hari Sabtu 21 Agustus 2011, kegiatan wiken ini... saya isi dengan kesibukan menjadi panitia kegiatan salah 1(satu) ormas islam YISC Al Alzhar, kegiatan yang rencananya akan dilaksanakan adalah buka bersama 1500 anak yatim dan sahur bersama warga dhuafa cipete Jakarta Selatan.
Hari itu saya beraktivitas tidak lupa dengan persiapan bekal yang cukup banyak, baju, alat mandi dll sudah saya bawa dan kebetulan saat itu saya memilih pakai tas ransel laptop, sebenarnya pilihan tas laptop bukan atas disengaja namun emang karena tidak ada pilihan lain, disebabkan semua tas ransel saya sudah dikirim ke kota buaya... eh salah, kota apahlawan ding... hehehehe, buat nyiicil barang pesenan sekaligus biar enteng kalau mudik.
Haduuuh... lebaran masih 2 minggu, barangnya sudah dikirim duluan, bener-bener orang udik dah... :D
Selepas acara buka bersama, saya dan teman saya(Akhis Agus Handono) melaksanakan sholat berjamaah isya' di dalam ruang utama masjid al azhar, tas laptop saya saat itu saya letakkan disisi kiri/selatan masjid, bersandar pada dinding masjid yang dekat dengan jendela keluar. Saat itu posisi saya memang agak menjauh dengan tas saya ketika hendak melakukan sholat sunnah ba'da isya, saya melaksanakan sholat dengan lancar, selesai sholat tiba-tiba teman saya yang kebetulan mendampingi saat itu bertanya "Van dimana tas-mu...?", saya jawab "disitu...!", dan kagetnya saya, ternyata tas saya sudah raib.
Sontak saya kaget, kenapa tas saya gak ada di tempatnya, apakah tas tersebut sudah bisa jalan-jalan sendiri.
Agus trus bilang, kalau tadi ada laki-laki yang melemparkan tas keluar jendela, secara reflex saya dan agus langsung berlari keluar secepat kilat ke arah gerbang, yaaaa... agak lebay dikit lah.
Bak satpol PP yang ngejar-ngejar PKL kami berlari ke arah gerbang ke luar Al Azhar belakang yang banyak pedagang makanan,  saya lihat ada pemuda memakai baju koko putih meneteng tas laptop mirip punya saya, begitu melihat kalau tas saya(dugaan) masih ada, saya langsung tarik tas saya dan leher orang tersebut di cekik/dipiting(*boso jowo, indonesianya ndak tau) sama agus, begitu tertangkap orangnya kita seret dan dia meronta-ronta, kebetulan karena saat itu lagi rame, orang-orang pada ngeliatin dong, akhirnya kami minta bantuin buat nyeret ini orang dan kita bawa ke pos satpam kampus di basement.
Di dalam pos kami interogasi bersama pak satpam dan alhamdulillah tas-nya bener punya saya, karena setelah saya cekisinya memang sesuai yang saya persiapkan.
Kalau dijelaskan apa isinya geli sendiri saya, itu maling apes kali ya, sudah ketangkep ternyata isinya bukan sesuai harapan seperti laptop gitu, kira-kira seingat saya waktu itu isinya handuk, sabun, kaos, krupuk maicih 5 bungkus buat oleh-oleh.

Setelah kita puas dan sebel interogasi tuh maling, sebel karena ngeles terus akhirnya sepakat kita bawa ke kantor polisi di deket taman puring.
Disitu saya sempet ambil foto kenang-kenangan tuh maling, ini nih wajah orang yang tertangkap basah ambil tas saya, basah karena di kejar-kejar dan diseret-seret.


Sebenarnya dari sisi penampilan nih orang cukup bagus lho, maksudnya gak serem kek tampang preman gitu, tapi kadang kemasan sama hati bisa beda.
Akhirnya setelah dipertimbangkan bersama, kami memutuskan tidak akan melanjutkan ke persidangan, cuma pesan kami kepada pak polisi agar maling tersebut diberi pelajaran, biar jera untuk tidak lagi mencuri.
Tidak disadari saking sibuknya ngurusin maling kami sampai belum makan sejak berbuka, berhubung sudah keroncongan saya dan agus makan buka sekalian di kantor polisi, setelah kenyang baru deh kembali ke Al Azhar mengingat bu Nur Hazah PJ sahur bersama sudah beberapa kali hub kami, lagian tugas kami sebagai panitia sudah menunggu.
Fiuhhh... panjang juga ngetiknya sampai lumayan cape, sebenarnya note ini pengen saya ikutkan kompetisi hamaasah yang temanya kesan dan pesan gabung YISC Al Azhar, tapi berhubung belum sempet ya telat deh, tapi tak mengapa yang penting para pembaca bisa mengambil hikmah dari kisah saya.
Beberapa pesan hikmah saya dari kejadian tersebut, mungkin bisa dirangkum seperti ini.
  1. Pesan hikmah yang bisa diambil adalah don't just the book from it's cover, meski kemasannya tas laptop belum tentu isinya laptop, bisa jadi kripik kan... hahahahaha
  2. Kalau lagi di al Azhar titipkan saja barang bawaan anda, kalau tidak muat, letakkan yang dekat dengan posisi anda saat itu.
  3. Jangan mudah percaya sama orang lain yang baru dikenal, berdasarkan cerita pak satpam, banyak kejadian titip barang sama orang lain yang baru dikenal, ketika ke toilet, orang yang dititipkan barang menghilang.
  4. Untuk alas kaki juga pilih yang tidak mencolok modelnya, tidak sedikit yang sudah kehilangan.
  5. Bagi yang menginap, barang bawaan di jaga banget ya, di jadikan bantal atau tasnya di gembok biar lebih aman, karena teman saya pernah kehilangan hp-nya esok harinya setelah saya kecurian tas.
So... tetap waspada ya, yang penting dari semuanya adalah berdoa, karena semua pasti ada hikmah dan tujuan, khusus buat akhi agus, kekna kita cocok ya jadi seksi keamanan kalau ada kegiatan lagi... hohohoho

Sabtu, 14 Januari 2012

Jual Beli Emas sebagai Investasi Masa Depan

Keuntungan Investasi Emas
Emas merupakan suatu bentuk aset investasi yang biasanya dimiliki oleh seseorang untuk melindungi nilai kekayaannya dan berguna untuk investasi jangka panjang. Emas memiliki nilai kadarnya, terutama biasanya emas yang paling dicari adalah emas yang murni dengan kadar 24karat, karena emas 24 karat memiliki kadar kemurnian sebesar 99,9%. Harga emas cenderung naik dari tahun ke tahun, dan jarang sekali mengalami penurunan harga yang signifikan kalaupun harganya turun.

Berikut ini saya sampaikan beberapa keunggulan investasi emas :

  1. Nilai emas tidak terpengaruh inflasi, jadi apabila inflasi naik, maka harga emas juga mengalami kenaikan, sehingga aset yang kita miliki tidak berkurang jumlahnya
  2. Nilai emas tidak terpengaruh oleh krisis ekonomi, jadi apabila negara kita mengalami krisis ekonomi, maka nilai jual emas tidak terpengaruh dengan krisis yang terjadi tersebut
  3. Nilai emas tidak terpengaruh sistem perbankan dan keputusan pemerintah, sehingga walaupun tingkat suku bunga naik, posisi emas tetap kuat dan mengikuti inflasinya, dan semakin naik
  4. Emas sangat mudah dijual dan dibentukkan menjadi uang, sehingga apabila kita sewaktu-waktu membutuhkan uang, karena kita dengan mudah menjualnya di toko-toko emas yaang banyak terdapat di daerah sekitar kita.
  5. Harga emas selalu naik dari tahun ke tahun dan emas dapat diterima suluruh orang di dunia

Nah ane agen LM mau nawarin nih, kalau tertarik invest emas drpada jauh-jauh ke pulogadung, bisa beli di ane, free ongkir Jakarta Selatan kawasan Kuningan, Mampang, Blok M dan sekitar situ yg deketan, kalau bisa malah ke kantor ane aja di Gedung Wisma Mulia/City Plaza - Jln Gatot Subroto Kav 42 - Kuningan.
Kalau tempat lain bisanya COD tp kena extra ongkir ya.



Harga update 24 Januari 2012 WIB

5 gr : Rp 1.040.000 (lready stock)
5 gr : Not Available *(pesan dahulu/sms)
10 gr : Not Available *(pesan dahulu/sms)
25 gr : Rp 12.550.000 (lebih murah dari antam - ready stock)
50 gr : Not Available *(pesan dahulu/sms)
100 gr : Rp 50.000.000 (lebih murah dari antam - ready stock)
250 gr : **(pesan dahulu/sms)
1000 gr : **(pesan dahulu/sms)

Note :
** Waiting list/Sold out(pesan dahulu/sms)
* Sold out(pesan dahulu/sms)

website antam. http://http://www.logammulia.com/gold-bar-id.php
Pemesanan & trx max pukul 17:00 WIB, guna memastikan harga spot pada saat itu.
Tertarik hub ane via PM atau fast response 081-1100-6457
Mengingat harga emas yang selalu berubah, transaksi selain COD, pembayaran melalui transfer langsung atau via rekber kaskus (recommended speedymeter, soalnya kenalan ane 1 kantor)



http://www.kaskus.us/showthread.php?t=12314348

Jual Mesin Caterpilar Untuk Kapal, Generator dan Gas

CAT 3516 Cylinder 16, hp 1.500
CP 081230030302





Ready CAT 3512 ,CAT 3516, CAT 399
Contact Person 081230030302

Sabtu, 29 Oktober 2011

Sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian

Perintis, pelopor dan pembuka pertama penyiaran serta pengembangan Islam di pulau jawa adalah para ulama/mubaligh yang berjumlah sembilan, yang popular dengan sebuatan wali songo. Atas perjuangan mereka, berhasil mendirikan sebuah kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa yang berpusat di Demak Jawa Tengah.

Para ulama yang sembilan dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam di tanah Jawa yang mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha mendapat kesulitan dalam membuang adat istiadat upacara keagamaan lama bagi mereka yang telah masuk Islam.

Para ulama yang sembilan (wali songo) dalam menangguangi masalah adat istiadat lama bagi mereka yang telah masuk Islam terbagi menjadi dua aliran yaitu ALIRAN GIRI dan ALIRAN TUBAN.

ALIRAN GIRI adalah suatu aliran yang dipimpin oleh Raden Paku (Sunan Giri) dengan para pendukung Raden Rahmat (Sunan Ampel), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan lain-lain.

Aliran ini dalam masalah ibadah sama sekali tidak mengenal kompromi dengan ajaran Budha, Hindu, keyakinan animisme dan dinamisme. Orang yang dengan suka rela masuk Islam lewat aliran ini, harus mau membuang jauh-jauh segala adat istiadat lama yang bertentangan dengan syari’at Islam tanpa reseve. Karena murninya aliran dalam menyiarkan dan mengembangkan Islam, maka aliran ini disebut ISLAM PUTIH.

Adapun ALIRAN TUBAN adalah suatu aliran yang dipimpin oleh R.M. Syahid (Sunan Kalijaga) yang didukung oleh Sunan Bonang, Sunan Muria, Sunan Kudus, dan Sunan Gunung Djati.

Aliran ini sangat moderat, mereka membiarkan dahulu terhadap pengikutnya yang mengerjakan adat istiadat upacara keagamaan lama yang sudah mendarah daging sulit dibuang, yang penting mereka mau memeluk Islam. Agar mereka jangan terlalu jauh menyimpang dari syari’at Islam. Maka para wali aliran Tuban berusaha adat istiadat Budha, Hindu, animisme dan dinamisme diwarnai keislaman. Karena moderatnya aliran ini maka pengikutnya jauh lebih banyak dibandingkan dengan pengikut aliran Giri yang radikal. aliran ini sangat disorot oleh aliran Giri karena dituduh mencampur adukan syari’at Islam dengan agama lain. Maka aliran ini dicap sebagai aliran Islam abangan.

Dengan ajarah agama Hindu yang terdapat dalam kitab Brahmana. Sebuah kitab yang isinya mengatur tata cara pelaksanaan kurban, sajian-sajian untuk menyembah dewa-dewa dan upacara menghormati roh-roh untuk menghormati orang yang telah mati (nenek moyang) ada aturan yang disebut Yajna besar dan Yajna kecil.
Yajna besar dibagi menjadi dua bagian yaitu Hafiryayajna dan Somayjna. Somayajna adalah upacara khusus untuk orang-orang tertentu. Adapun Hafiryayajna untuk semua orang.

Hafiryayajna terbagi menjadi empat bagian yaitu : Aghnidheya, Pinda Pitre Yajna, Catur masya, dan Aghrain. Dari empat macam tersebut ada satu yang sangat berat dibuang sampai sekarang bagi orang yang sudah masuk Islam adalah upacara Pinda Pitre Yajna yaitu suatu upacara menghormati roh-roh orang yang sudah mati.

Dalam upacara Pinda Pitre Yajna, ada suatu keyakinan bahwa manusia setelah mati, sebelum memasuki karman, yakni menjelma lahir kembali kedunia ada yang menjadi dewa, manusia, binatang dan bahkan menjelma menjadi batu, tumbuh-tumbuhan dan lain-lain sesuai dengan amal perbuatannya selama hidup, dari 1-7 hari roh tersebut masih berada dilingkungan rumah keluarganya. Pada hari ke 40, 100, 1000 dari kematiannya, roh tersebut datang lagi ke rumah keluarganya. Maka dari itu, pada hari-hari tersebut harus diadakan upacara saji-sajian dan bacaan mantera-mantera serta nyanyian suci untuk memohon kepada dewa-dewa agar rohnya si pulan menjalani karma menjadi manusia yang baik, jangan menjadi yang lainnya.

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan aghnideya, yaitu menyalakan api suci (membakar kemenyan) untuk kontak dengan para dewa dan roh si pulan yang dituju. Selanjutnya diteruskan dengan menghidangkan saji-sajian berupa makanan, minuman dan lain-lain untuk dipersembahkan ke para dewa, kemudian dilanjutkan dengan bacaan mantra-mantra dan nyanyian-nyanyian suci oleh para pendeta agar permohonannya dikabulkan.

Pada masa para wali dibawah pimpinan Sunan Ampel, pernah diadakan musyawarah antara para wali untuk memecahkan adat istiadat lama bagi orang yang telah masuk Islam. Dalam musyawarah tersebut Sunan Kali Jaga selaku Ketua aliran Tuban mengusulkan kepada majlis musyawarah agar adat istiadat lama yang sulit dibuang, termasuk didalamnya upacara Pinda Pitre Yajna dimasuki unsur keislaman.
Usulan tersebut menjadi masalah yang serius pada waktu itu sebab para ulama (wali) tahu benar bahwa upacara kematian adat lama dan lain-lainnya sangat menyimpang dengan ajaran Islam yang sebenarnya.
Mendengar usulan Sunan Kali Jaga yang penuh diplomatis itu, Sunan Ampel selaku penghulu para wali pada waktu itu dan sekaligus menjadi ketua sidang/musyawarah mengajukan pertanyaan sebagai berikut :
“Apakah tidak dikhawatirkan dikemudian hari?, bahwa adat istiadat lama itu nanti akan dianggap sebagai ajaran Islam, sehingga kalau demikian nanti apakah hal ini tidak akan menjadikan bid’ah”.
Pertanyaan Sunan Ampel tersebut kemudian dijawab oleh Sunan Kudus sebagai berikut : “Saya sangat dengan pendapat Sunan Kali Jaga”.

Sekalipun Sunan Ampel, Sunan Giri, dan Sunan Drajat sangat tidak menyetujui, akan tetapi mayoritas anggota musyawarah menyetujui usulan Sunan Kali Jaga, maka hal tersebut berjalan sesuai dengan keinginannya. Mulai saat itulah secara resmi berdasarkan hasil musyawarah, upacara dalam agama Hindu yang bernama Pinda Pitre Yajna dilestarikan oleh orang-orang Islam aliran Tuban yang kemudian dikenal dengan nama nelung dino, mitung dina, matang puluh, nyatus, dan nyewu.
Dari akibat lunaknya aliran Tuban, maka bukan saja upacara seperti itu yang berkembang subur, akan tetapi keyakinan animisme dan dinamisme serta upacara-upacara adat lain ikut berkembang subur. Maka dari itu tidaklah heran muridnya Sunan Kali Jaga sendiri yang bernama Syekh Siti Jenar merasa mendapat peluang yang sangat leluasa untuk mensinkritismekan ajaran Hindu dalam Islam. Dari hasil olahannya, maka lahir suatu ajaran kleni / aliran kepercayaan yang berbau Islam. Dan tumbuhlah apa yang disebut “Manunggaling Kaula Gusti” yang artinya Tuhan menyatu dengan tubuhku. Maka tatacara untuk mendekatkan diri kepada Allah lewat shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya tidak usah dilakukan.

Sekalipun Syekh Siti Jenar berhasil dibunuh, akan tetapi murid-muridnya yang cukup banyak sudah menyebar dimana-mana. Dari itu maka kepercayaan seperti itu hidup subur sampai sekarang.

Keadaan umat Islam setelah para wali meninggal dunia semakin jauh dari ajaran Islam yang sebenarnya. para Ulama aliran Giri yang terus mempengaruhi pra raja Islam pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk menegakkan syari’at Islam yang murni mendapat kecaman dan ancaman dari para raja Islam pada waktu itu, karena raja-raja Islam mayoritas menganut aliran Tuban. Sehingga pusat pemerintahan kerajaan di Demak berusaha dipindahkan ke Pajang agar terlepas dari pengaruh para ulama aliran Giri.

Pada masa kerajaan Islam di Jawa, dibawah pimpinan raja Amangkurat I, para ulama yang berusaha mempengaruhi keraton dan masyarakat, mereka ditangkapi dan dibunuh/dibrondong di lapangan Surakarta sebanyak 7.000 orang ulama. Melihat tindakan yang sewenang-wenang terhadap ulama aliran Giri itu, maka Trunojoyo Santri Giri berusaha menyusun kekuatan untuk menyerang Amangkurat I yang keparat itu.

Pada masa kerajaan dipegang oleh Amangkurat II sebagai pengganti ayahnya, ia membela, dendam terhadap Truno Joyo yang menyerang pemerintahan ayahnya. Ia bekerja sama dengan VOC menyerang Giri Kedaton dan semua upala serta santri aliran Giri dibunuh habis-habisan, bahkan semua keturunan Sunan Giri dihabisi pula. Dengan demikian lenyaplah sudah ulama-ulama penegak Islam yang konsekwen. Ulama-ulama yang boleh hidup dimasa itu adalah ulama-ulama yang lunak (moderat) yang mau menyesuaikan diri dengan keadaan masyarakat yang ada. maka bertambah suburlah adat-istiadat lama yang melekat pada orang-orang Islam, terutama upacara adat Pinde Pitre Yajna dalam upacara kematian.

Keadaan yang demikian terus berjalan berabad-abad tanpa ada seorang ulamapun yang muncul untuk mengikis habis adat-istiadat lama yang melekat pada Islam terutama Pinda Pitre Yajna. Baru pada tahun 1912 M, muncul seorang ulama di Yogyakarta bernama K.H. Ahmad Dahlan yang berusaha sekuat kemampuannya untuk mengembalikan Islam dari sumbernya yaitu Al Qur’an dan As Sunnah, karena beliau telah memandang bahwa Islam dalam masyrakat Indonesia telah banyak dicampuri berbagai ajaran yang tidak berasal dari Al Qur’an dan Al Hadits, dimana-mana merajalela perbuatan khurafat dan bid’ah sehingga umat Islam hidup dalam keadaan konservatif dan tradisional.

Munculnya K.H. Ahmad Dahlan bukan saja berusaha mengikis habis segala adat istiadat Budha, Hindu, animisme, dinamisme yang melekat pada Islam, akan tetapi juga menyebarkan fikiran-fikiran pembaharuan dalam Islam, agar umat Islam menjadi umat yang maju seperti umat-umat lain. Akan tetapi aneh bin ajaib, kemunculan beliau tersebut disambut negatif oleh sebagian ulama itu sendiri, yang ternyata ulama-ulama tersebut adalah ulama-ulama yang tidak setuju untuk membuang beberapa adat istiadat Budha dan Hindu yang telah diwarnai keislaman yang telah dilestarikan oleh ulama-ulama aliran Tuban dahulu, yang antara lain upacara Pinda Pitre Yajna yang diisi nafas Islam, yang terkenal dengan nama upacara nelung dina, mitung dina, matang dina, nyatus, dan nyewu.

Pada tahun 1926 para ulama Indonesia bangkit dengan didirikannya organisasi yang diberi nama “Nahdhotul Ulama” yang disingkat NU. Pada muktamarnya di Makasar NU mengeluarkan suatu keputusan yang antara lain : “Setiap acara yang bersifat keagamaan harus diawali dengan bacaan tahlil yang sistimatikanya seperti yang kita kenal sekarang di masyarakat”. Keputusan ini nampaknya benar-benar dilaksanakan oleh orang NU. Sehingga semua acara yang bersifat keagamaan diawali dengan bacaan tahlil, termasuk acara kematian. Mulai saat itulah secara lambat laun upacara Pinda Pitre Yajna yang diwarnai keislaman berubah nama menjadi tahlilan sampai sekarang.

Sesuai dengan sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, maka istilah tahlilan dalam upacara kemagian hanya dikenal di Jawa saja. Di pulau-pulau lain seluruh Indonesia tidak ada acara ini. Seandainya ada pun hanya sebagai rembesan dari pulau Jawa saja. Apalagi di negara-negara lain seperti Arab, Mesir, dan negara-negara lainnnya diseluruh dunia sama sekali tidak mengenal upacara tahlilan dalam kematian ini.

Dengan sudah tahunya sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian yang terurai diatas, maka kita tidak akan lagi mengatakan bahwa upacara kematian adalah ajaran Islam, bahkan kita akan bisa mengatakan bahwa orang yang tidak mau membuang upacara tersebut berarti melestarikan salah satu ajaran agama Hindu. Orang-orang Hindu sama sekali tidak mau melestarikan ajaran Islam, bahkan tidak mau kepercikan ajaran Islam sedikitpun. Tetapi kenapa kita orang Islam justru melestarikan keyakinan dan ajaran mereka.

Tak cukupkah bagi kita Sunnah Rasulullah yg sudah jelas terang benderang saja yg kita kerjakan. Kenapa harus ditambah-tambahin/mengada-ngada. Mereka beranggapan ajaran Rasulullah masih kurang sempurna.

Mudah-mudahan setelah kita tahu sejarah lahirnya tahlilan dalam upacara kematian, kita mau membuka hati untuk menerima kebenaran yang hakiki dan kita mudah-mudahan akan menjadi orang Islam yang konsekwen terhadap ajaran Alloh dan RosulNya.

Ada satu hal yang perlu kita jaga baik-baik, jangan sekali-kali kita berani mengatakan bahwa orang yang matinya tidak ditahlil adalah kerbau. Menurut penulis, perkataan seperti ini termasuk dosa besar, karena berarti Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya serta kaum muslimin seluruh dunia selain orang pulau Jawa yang matinya tidak ditahlili adalah kerbau semua.
Na’udzu billahi mindzalik

Penulis
SUHADI

Daftar Literatur
1. K.H. Saifuddin Zuhn, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, Al Ma’arif Bandung 1979
2. Umar Hasyim, Sunan Giri Menara Kudus 1979
3. Solihin Salam, Sekitar Wali Sanga, Menara Kudus 1974
4. Drs. Abu Ahmadi, Perbandungan Agama, Ab.Siti Syamsiyah Solo 1977
5. Soekmono, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia, Tri Karya, Jakarta 1961
6. Hasil wawancara dengan tokoh Agama Hindu.
7. A. Hasan, Soal Jawab, Diponegoro Bandung 1975

Artikel ini dibuat oleh http://www.kaskus.us/showthread.php?t=4135127 ,saya merasa contentnya sangat mencerahkan sehingga merasa perlu disebarluaskan.